Kisah Sedih di Kalibiru (aaa.. aa.. a..)

part I –

kisah ini berupa dongeng yang bukan dongeng karena ditokohi oleh saya sendiri. baik tanpa babibu mari kita simak bersama:

suatu hari yang cerah, aku dan ibuku sedang mengobrol di dapur.

“ibu, ini pepsi punya siapa? aku minum ya?”

“itu punya adik jangan diminum nanti marah”. pada saat ini adikku sedang buang air besar.

“adiiik, ini pepsi aku minum boleh gaaak?” (breeesshh) (suara air kran kamar mandi yang menyala) (keras sekali)

“adiiik, matiin dulu air krannya aku mau ngomong!!” (air kran kamar mandi dimatiin)

“ini pepsi kamu aku minum yaaa”

adik: “iya!!” (plung) (suara pup jatuh) (kedengeran karena air krannya lagi dimatiin)

demikianlah keseharianku di rumah setiap kali liburan. tidak seru.

part II –

liburan kali ini kami sekeluarga bertamasya ke kalibiru. sesampainya di sana aku ditinggal sendirian karena ayah ibu ada janji berkondangan ke pernikahan kakak sepupu. agar diketahui, sebenernya kakak sepupu aku itu adalah keponakannya ibu aku. meskipun ibu gak pernah cerita, tapi aku bisa simpulkan kalau kakak sepupu ini adalah kakak sepupuku karena doi anaknya budhe aku. sedangkan budhe aku adalah kakak kandung ibu aku. yha.

liburan pun berlalu. menit demi menit, jam demi jam, waktu demi waktu, sampai akhirnya menjadi malam. aku lapar sekali tapi di sini tidak ada makanan. biasanya setiap liburan, ibu yang masak tapi kali ini karena ibu dan ayah sedang _____ (jawaban ada pada paragraf sebelumnya), maka tidak ada yang memasak.

hari semakin malam dan akupun mengantuk. dilema antar ngantuk dan lapar, aku pun mantap memilih  tidur dengan harapan semoga bisa mimpi makan enak.

tak lama kemudian,

“dokdok!!” (aku nggak denger)

“dokdokdok!!” (aku nggak denger)

“dokdokdok!!” (aku denger dan kebangun).

wow tukang nasi goreng!! olala penyelamaku!! langsung saja aku berlari ke halaman depan. sayup sayup terlihat cahaya lampu minyak yang mendekat. cepat. cepat sekali. “buset ini nasi goreng express”, batinku.

dokdokdok!! nasi goreng itu melewatiku dengan cepat sekali. gerobaknya didorong sambil lari.

sigap bak pleton upacara, aku ikut berlari dan mengejar gerobak tsb (tersebut).

“bang!! nasi goreng bang!!”, teriakku. babang nasi goreng itu masih tetap berlari mendorong gerobaknya. “bang!!”, teriakku sambil menambah kecepatan berlari.

si babang nengok dan melihatku tapi tetap berlari. “sori mas!! habis!!!”, kata si babang nasi goreng dan larinya makin kencang. aku berhenti berlari. aku terpaku tegak. mataku sayu menatap cahaya lampu minyak gerobak nasigoreng itu yang semakin menjauh.

cepat. cepat sekali. sedih.

yak, demikianlah kisah liburan kali ini yang berakhir dengan saya yang perut lapar tapi hati tegar. sampai jumpa di kisah selanjutnya.

hikmah: jangan lengah menghadapi setiap rintangan. apapun hasilnya nanti kita harus tetap siap mengatasi setiap masalah yang ada. do the best and expect the worst yoi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s